Senin, 05 Januari 2015

Metamorfosa

Metamorfosa tidak selalu berjalan dengan mulus, tanpa ada hambatan dan gangguan. Dalam hidup, saya selalu mengaitkan hidup ini bagai metamorfosis seekor kupu-kupu. Hal yang paling saya sukai saat menulis esai. Cobalah lihat setiap fase-fase perubahannya, mulai dari seekor ulat, bertelur, lalu menetaskan telur-telur menjadi banyak ulat. Selanjutnya sang induk mengalami fase, dimana sudah saatnya untuk menjadi sebuah kepompong yang lama bertapa didalamnya. Nah, dari situlah kepompong mengalami fase tersulitnya. Dimana kepompong nanti diharapkan menjadi sebuah kupu-kupu indah. Jika tidak ada yang menggangu bahkan dimakan sang predator tentu fasenya sangat lancar. Namun jika ditempat ia menggantungkan kepompong tempat ia bertapa banyak hal yang dapat mempengaruhi keindahan sayap-sayapnya.

Sama halnya kehidupan seorang manusia dimana ia berjalan menuju sebuah impian bahkan lebih banyak impian-impian lainnya. Fase kepompong dimana ia harus mengurung dan mengunci dirinya dari segala bentuk aktivitas hariannya. Tanpa makan demi sebuah keindahan diakhir fasenya. Di fase inilah bisa diibaratkan seorang yang mengurung dirinya, namun bukan berarti menutup diri dari kerabat atau teman karib. Hal tersebut adalah upaya dimana kupu-kupu ingin melihat sebuah senyuman dari hati yang gembira kerena terhibur oleh warna-warni lucu sayapnya. Itulah gambarannya jika menginkan sebuah happy ending, namun kita juga tak menginginkan adanya jarak antara keluarga dan teman. Namun mencoba memilih mana yang baik untuk diikuti dan banyak memiliki manfaat serta feedback. Kebijaksanaan dalam memilih dan menggunakan logika untuk mengerti akan semua itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar