Jumat, 16 Januari 2015

Just mom my sweet heart now


Dinginnya malam tak menghalangi langkahnya menelusuri setiap sudut jalan untuk menemukan pencerahan. Walaupun terik matahari yang membakar kulit lembutnya tak memberi halangan baginya untuk terus memberikan yang terbaik .

Keterbatasan finansial tak memmbuatnya malas terus mencari untuk yang Ia cinta. Meskipun hal itu membuatnya dicerca sekalipun. Apapun dia lakukan untu kesangannya. Insane yang memang tak harap balas jasa yang terpenting induk inangnya bagia ia pun bahagia.
Tubuh lemahnya tak membuatnya malas untuk menyiapkan segala kebutuhan di setiap harinya. Ia teramat sempurna sebagi seorang bunda dan orang tua bagi anak-anaknya.

Semangat itulah yang selalu tertanam dalam lubuk hati untuk terus berjuang melawan diri berjuang mengejar mimmpi. Rasa iba yang terus menggelayuti dalam setiap malam tidurku teringat kegigihan beliau. Seperlima abad aku dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih saying yang tak kurang. Pendidikan yang amat teramat baik dibandingkan anak-anak teman sebaya beliau. Meskipun ia tak merasakan indahnya dunia pendidikan dan manisnya kehidupan anak muda. Sungguh penganghargaan yang tak terhingga patut ia sandang dan bawa.

Malaikatku pada setiap detik umurku, inginkku memberimu apa yang melebihi engkau berikan. Dalam dekapan setiap kata dalam doa malamku engkau yang selalu kuutamakan. Namun kurang rasanya jikalau di seperlima abad ini tanpa memberinya sesuatu yang amat berarti baginya. Prestasi akupun biasa, anak yang penuh budi pekerti tidak juga. Bundaku sayang yang selalu kuingat setiap langkah perjuangamu untuk kutiru berlari menuju mimpiku yang tak hingga jika dinilai dengan angka.

Engkau alasanku untuk terus maju secepat dan seakurat mungkin dalam memilih mimpi dan mewujudkannya. Berjanji sudah biasa dan lupa lain kala, sekarang bertekad dalam hati dan kebiasaan yang terbaiki untuk selalu survive dalam setiap langkah perjuangan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar