Mahasiswa. Maha atas kesiswaan.predikat tertinggi kalian
dalam dunia pendidikan. Mahasiswa para intelektual muda yang penuh jiwa-jiwa
muda sebagai harapan bangsa. Kita bisa mengubah dunia, seperti kata soekarno “beri
aku satu orang tua maka akan kucabut semeru
dari akarnya, dan beri aku sepeluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia”. Kata-kata
yang sederhana, namun sangat mendalam. Mengajarkan wahai para kaum pemuda
khususnya kalian para mahasiswa, bagaimana dengan keberaniaan kalian untuk
mengubah dunia.
Mahasiswa! Kalian adalah jiwa muda, dimana kalian bebas
mengekspresikan segalanya. Kegemaran kalian, ide kalian, passion kalian, entah
apapun itu bentuknya dengan artian positif dan tidak melanggar norma dan
peraturan yang ada.
Mahasiswa! Kalian adalah salah satu dari sekian ribu bahkan
jutaan mahasiswa di indonesia dan mahasiswa yang ada di luar negeri. Kalian
adalah harapan bangsa, aset atau kekayaan negeri ini. masyarakat penuh harap pada
kalian wahai mahasiswa, berharap agar kalian dapat memperjuangkan hak-haknya.
Hak yang tidak diberikan oleh para kaum penguasa negeri ini. kalian wahai para
mahasiswa, masyarakat tahu kalian pernah mencetak sejarah reformasi negeri ini.
hmmm...tentu kalian tahu akan sejarah itu. Dimana jiwa kalian geram dengan
otoriter yang terjadi pada penguasa negeri ini, yang sekarang telah berlalu
lebih dari satu dekade adanya reformasi.
Wahai kalian para mahasiswa, dimana hak-hak suara kalian
dalam memperjuangkan masyarakat yang kurang beruntung tidak didengar. Saat itu
juga jiwa muda kalian dan intelektual kalian,
meledak seketika untuk memperjuangkannya.
Mahasiswa! kalian yang biasa teriak dijalan, katanya? Terkadang
teriakan kalian tak didengar bahkan pintu lembaga tertutup rapat untuk sekedar
mendengar satu tuntutan dari sekian banyak tuntutan.
Mahasiswa ! kalian sang pencari paradigama kebenaran. Dimana
kalian perlu untuk rajin mencari bekal dalam membuka tabiir kekelapan dan
banyak kebohongan negeri ini. kalian perlu mengisi cairan-cairan yang dapat
menghilangkan bakteri dan virus-virus perusak peradaban.
Dari sederetan budaya kalian dan kalian yang identik dengan
sebutan control sosial dan lembaga pemerintahan. Apa yang seharusnya kalian
siapkan dan terus mencari demi membuktikan fakta-fakta, jangan hanya retorika.
Budaya kalian, kita para teman-temanku mahasiswa memang
berbeda. Bangsa kita memiliki aset budaya yang tak ternilai dengan nominal
berapapun panjang angka-angka yang ditawarkan. Kekayaan sumber daya alam yang
sangat berlimpah, gugusan pulau-pulau yang membentang dari ujung barat
Indonesia sampai timur Indonesia.
Wahai kalian para mahasiswa. Kalian tentu mengetahui bangsa
kita sangat kaya atas segalanya yang kita miliki. Namun apa bekal kalian dalam
mengelola itu untuk kemaslahatan bersama.
Dunia kalian bukan lagi seperti dunia anak SMA. Dunia kalian
sudah berbeda, waktu kalian juga sayang sekali jika tak pandai mengelolanya.
Kalian butuh banyak belajar, lalu sekarang apa yang perlu dipelajari. Aku sudah
pintar dengan ilmu-ilmu ekonomiku, sudah tak perlu aku mencari ilmu lain selain
bidangku saat ini. hhha....hanya itukah, padahal kalian calon pemimpin bangsa
yang perlu juga pandai untuk berdiplomasi, bukan hanya sekedar bicara bidangmu
saja. Namun keseluruhan masalah global yang terjadi.
Mahasiswa hanya sekedar update dan baca setatus? Hha...apa
itu fungsi kecanggihan teknologi dan era informasi saat ini. kalian hanya baca
status keluhan tentang cinta, galau merana dan sebagainya. Kalian meresahkan
yang sebenaranya tak perlu untuk kalian galaukan.
Kalian hanya perlu menggalaukan bagaimana kapasitas kalian.
Kompetensi kalian, jiwa sosial kalian, jiwa-jiwa nasionalis kalian. Kompetensi
kalian perlu kalian isi penuh dengan segala ilmu dan bidang yang kalian tekuni.
Bagaimana perpustakaan? Apa kabar ya? Nanti deh kalau sudah mendekati skripsi
dan ujiannya. Mahasiswa baca saja tak pernah, perpustakaan dibiarkan kosong dan
jutaan lembar buku dibiarkan rusak karena debu. Ramai kok...hmmm...iya memang
tapi ramai karena berburu skripsi. Kalau begitu sama halnya sks, sama halnya kalian
para kaum kurang beruntung dijalanan sana.
Apalagi menulis. Aktivitas sehari saja malas menulisnya,
apalagi ilmiah. Bagaimana kalian bisa
disebut para intektual. Mahasiswa para pengembang dunia keilmiahan dan harusnya
mampu untuk membuat gebrakan baru atau memunculkan teori-teori baru dalam
menyumbangkan ide perubahan.
Tuhan ! iya ya seharusnya aku malu jika hanya kampus, bangku
dan warteg, serta kasur yang selalu saya tuju. Biaya kuliah saya yang sebagian
dari uang mereka para pembayar pajak negara, hanya untuk subsidi kuliah saya
sebagai mahasiswa. Mereka para pengemis dijalan, tukang becak, pedagang
asongan, petani, dan para buruh swasta. Membayar mahal demi saya, hanya untuk
berharap dapat mengubah nasib mereka.
Sekarang saya mahasiswa saatnya mengubah kebiasaan saya dan
paradigma saya yang terbelenggu dalam keterbelakangan hampir masuk jurang
nestapa kekalahan dari bangsa dibelahan dunia sana. Sekarang! Saya mahasiswa
berjanji untuk mengubah malas saya dalam belajar banyak literatur ilmu yang
harusnya saya cerna. Membaca adalah salah satu perantaranya. Saya mahasiswa
berjanji untuk menyumbangkan tulisan, walau hanya cerita harian saya yang
mungkin kurang bermakna, namun setidaknya itu dapat memberi dorongan semangat
kepada diri saya. Jiwa kepedulian saya akan
kubangun dengan kepekaan mengenai keadaan sekitar yang sangat
membutuhkan uluran tangan saya.
Sekarang saatnya saya mahasiswa berubah karena saya adalah
aset bangsa yang bukan diharapkan untuk diri sendiri tapi bangsa ini.
Kita bisa mengubah. Kita bisa saat ini juga dengan komitmen
dan konsistensi yang harus terus terjaga.
by : setiawati (ditulis 16 januari 2015 saat Graduation Ceremony Economic futire leader second generation dalam rangka renungan malam wisuda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar