Jumat, 16 Januari 2015

Mahasiswa

Mahasiswa. Maha atas kesiswaan.predikat tertinggi kalian dalam dunia pendidikan. Mahasiswa para intelektual muda yang penuh jiwa-jiwa muda sebagai harapan bangsa. Kita bisa mengubah dunia, seperti kata soekarno “beri aku satu  orang tua maka akan kucabut semeru dari akarnya, dan beri aku sepeluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia”. Kata-kata yang sederhana, namun sangat mendalam. Mengajarkan wahai para kaum pemuda khususnya kalian para mahasiswa, bagaimana dengan keberaniaan kalian untuk mengubah dunia.
Mahasiswa! Kalian adalah jiwa muda, dimana kalian bebas mengekspresikan segalanya. Kegemaran kalian, ide kalian, passion kalian, entah apapun itu bentuknya dengan artian positif dan tidak melanggar norma dan peraturan yang ada.
Mahasiswa! Kalian adalah salah satu dari sekian ribu bahkan jutaan mahasiswa di indonesia dan mahasiswa yang ada di luar negeri. Kalian adalah harapan bangsa, aset atau kekayaan negeri ini. masyarakat penuh harap pada kalian  wahai mahasiswa,  berharap agar kalian dapat memperjuangkan hak-haknya. Hak yang tidak diberikan oleh para kaum penguasa negeri ini. kalian wahai para mahasiswa, masyarakat tahu kalian pernah mencetak sejarah reformasi negeri ini. hmmm...tentu kalian tahu akan sejarah itu. Dimana jiwa kalian geram dengan otoriter yang terjadi pada penguasa negeri ini, yang sekarang telah berlalu lebih dari satu dekade adanya reformasi.
Wahai kalian para mahasiswa, dimana hak-hak suara kalian dalam memperjuangkan masyarakat yang kurang beruntung tidak didengar. Saat itu juga jiwa  muda kalian dan intelektual kalian, meledak seketika untuk memperjuangkannya.
Mahasiswa! kalian yang biasa teriak dijalan, katanya? Terkadang teriakan kalian tak didengar bahkan pintu lembaga tertutup rapat untuk sekedar mendengar satu tuntutan dari sekian banyak tuntutan.
Mahasiswa ! kalian sang pencari paradigama kebenaran. Dimana kalian perlu untuk rajin mencari bekal dalam membuka tabiir kekelapan dan banyak kebohongan negeri ini. kalian perlu mengisi cairan-cairan yang dapat menghilangkan bakteri dan virus-virus perusak peradaban.
Dari sederetan budaya kalian dan kalian yang identik dengan sebutan control sosial dan lembaga pemerintahan. Apa yang seharusnya kalian siapkan dan terus mencari demi membuktikan fakta-fakta, jangan hanya retorika.
Budaya kalian, kita para teman-temanku mahasiswa memang berbeda. Bangsa kita memiliki aset budaya yang tak ternilai dengan nominal berapapun panjang angka-angka yang ditawarkan. Kekayaan sumber daya alam yang sangat berlimpah, gugusan pulau-pulau yang membentang dari ujung barat Indonesia sampai timur Indonesia.
Wahai kalian para mahasiswa. Kalian tentu mengetahui bangsa kita sangat kaya atas segalanya yang kita miliki. Namun apa bekal kalian dalam mengelola itu untuk kemaslahatan bersama.
Dunia kalian bukan lagi seperti dunia anak SMA. Dunia kalian sudah berbeda, waktu kalian juga sayang sekali jika tak pandai mengelolanya. Kalian butuh banyak belajar, lalu sekarang apa yang perlu dipelajari. Aku sudah pintar dengan ilmu-ilmu ekonomiku, sudah tak perlu aku mencari ilmu lain selain bidangku saat ini. hhha....hanya itukah, padahal kalian calon pemimpin bangsa yang perlu juga pandai untuk berdiplomasi, bukan hanya sekedar bicara bidangmu saja. Namun keseluruhan masalah global yang terjadi.
Mahasiswa hanya sekedar update dan baca setatus? Hha...apa itu fungsi kecanggihan teknologi dan era informasi saat ini. kalian hanya baca status keluhan tentang cinta, galau merana dan sebagainya. Kalian meresahkan yang sebenaranya tak perlu untuk kalian galaukan.
Kalian hanya perlu menggalaukan bagaimana kapasitas kalian. Kompetensi kalian, jiwa sosial kalian, jiwa-jiwa nasionalis kalian. Kompetensi kalian perlu kalian isi penuh dengan segala ilmu dan bidang yang kalian tekuni. Bagaimana perpustakaan? Apa kabar ya? Nanti deh kalau sudah mendekati skripsi dan ujiannya. Mahasiswa baca saja tak pernah, perpustakaan dibiarkan kosong dan jutaan lembar buku dibiarkan rusak karena debu. Ramai kok...hmmm...iya memang tapi ramai karena berburu skripsi. Kalau begitu sama halnya sks, sama halnya kalian para kaum kurang beruntung dijalanan sana.

Apalagi menulis. Aktivitas sehari saja malas menulisnya, apalagi ilmiah. Bagaimana kalian  bisa disebut para intektual. Mahasiswa para pengembang dunia keilmiahan dan harusnya mampu untuk membuat gebrakan baru atau memunculkan teori-teori baru dalam menyumbangkan ide perubahan.
Tuhan ! iya ya seharusnya aku malu jika hanya kampus, bangku dan warteg, serta kasur yang selalu saya tuju. Biaya kuliah saya yang sebagian dari uang mereka para pembayar pajak negara, hanya untuk subsidi kuliah saya sebagai mahasiswa. Mereka para pengemis dijalan, tukang becak, pedagang asongan, petani, dan para buruh swasta. Membayar mahal demi saya, hanya untuk berharap dapat mengubah nasib mereka.

Sekarang saya mahasiswa saatnya mengubah kebiasaan saya dan paradigma saya yang terbelenggu dalam keterbelakangan hampir masuk jurang nestapa kekalahan dari bangsa dibelahan dunia sana. Sekarang! Saya mahasiswa berjanji untuk mengubah malas saya dalam belajar banyak literatur ilmu yang harusnya saya cerna. Membaca adalah salah satu perantaranya. Saya mahasiswa berjanji untuk menyumbangkan tulisan, walau hanya cerita harian saya yang mungkin kurang bermakna, namun setidaknya itu dapat memberi dorongan semangat kepada diri saya. Jiwa kepedulian saya akan  kubangun dengan kepekaan mengenai keadaan sekitar yang sangat membutuhkan uluran tangan saya.
Sekarang saatnya saya mahasiswa berubah karena saya adalah aset bangsa yang bukan diharapkan untuk diri sendiri tapi bangsa ini.

Kita bisa mengubah. Kita bisa saat ini juga dengan komitmen dan konsistensi yang harus terus terjaga. 

by : setiawati (ditulis 16 januari 2015 saat Graduation Ceremony Economic futire leader second generation dalam rangka renungan malam wisuda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar