10 Januari 2015 jalan-jalan
santai akhir kepengurusan BEM FE Depertemen PPSDM 2014. Selalu tak terduga
agenda yang menyenangkan, selalu tak terpikir bahwa ternyata ada dimana jiwa
dan rasa ini diberikan kegembiraan. Para staf yang amat kreatif dan inspiratif,
bangga saya telah bergabung dengan mereka semua, meskipun baru magang. Kalian
semua keren dan kece, saya beri jempol empat ya, hhe...
Jalan-jalan akhir kepengurusan 2014 menjadi penutup diantara banyak agenda yang ada dalam departemen ini. Departemen yang penuh keunikan dan kelebihan. Departemen yang orang-orangnya selalu menjadi panutan sebagai mahasiswa yang sesungguhnya. Tak hanya organisasi, namun juga prestasi. Itulah kelebihannya, tak sekedar retorika namun juga bisa menghadirkan dan membuktikan fakta, inilah mahasiswa yang sebenarnya. Bukan hanya bangku yang dihadapi, namun masyarakat menjadi perjuangannya. Semangat mereka membuat saya iri dan ingin belajar banyak disini, bersama orang-orang keci yang pandai, kreatif dan penuh inspirasi.
Makan menjadi sajian terakhir saat aksi jalan-jalan asyik di tanggal 10 januari. Di warung makan yang lebih dari kata sederhana menu makannya, energi diisikan kemabali setelah lelah menutupi kesegaran setiap tubuh kami. Lahap nyam...nyam...menu ikan bakar dan ayam bakar jadi andalan saat itu. Kenikamatan yang tak terhingga dan mungkin tak akan mengalaminya lagi dengan orang yang sama dalam kepengurusan baru nanti. Lelah pada prosesnya namun indah pada akhirnya itulah saya dan mereka, luar biasa!
Jalan-jalan sederhana yang mengakrabkan semua diantara ke-22 anggota, dari gunung turun ke lembah dan dataran. Dari goa dan bendungan turun ke dekat pelabuhan dahulunya yang sekarang menjadi pusat kota Semarang, yaitu Klenteng Sam Poo Kong. Menelusuri sejahrah tiongkok yang pernah berlabuh dan menetap di ujung tengah jawa. Laksamana Cheng Ho legenda Klenteng Agung sejarah kota Semarang. Dari sudut-sudut bangunan yang bernuansa Tiongkok, patung-patung penggambaran para sejarawan yang mendirikan sebuah sejarah yang kita kenal sekarang Sam Poo Kong. Cat-cat tembok yang bercirikan budaya dari negeri tirai bambu itu, menambah keindahan arsitektur banguanan. Meskipun telah banyak perubahan karena renovasi. Hal yang tak pernah lupa dan ketinggalan saat menyusuri setiap sudut objek yang kita kunjuangi adalah dokumentasi gambar, saksi sejarah perjalan yang tak boleh ditinggalkan agar terus terkenang sampai senja usia telah tiba.
Gambar Pribadi
Tak puas menyusuri sejarah tiongkok, kita berlanjut ke lawang sewu sebutan orang jawa alias seribu pintu. Sejarah berharga yang dimiliki Kota Semarang. Sebuah bangunan tua yang bersejarah dari awal abad ke-21 yang telah didirikan oleh bangsa kolonial dahulu. Penjajahan belanda di Indonesia telah meninggalkan jejak sejarah yang banyak diseluruk pelosok nusantara. Lawang sewu adalah salah satu saksi peninggalan sejarah bangsa Belanda yang dulu menjajah bangsa Indonesia. Bangunan klasik khas arsitektur bangunan Eropa jaman dahulu. Dengan gedung yang kokoh, dan salah satu ciri bangunan tua dahulu adalah kusen-kusen pintu dan jendela yang lebar dan tinggi.
Sedikit mengupas sejarah masa penjajahan Belanda di Kotaku saat ini. Lawang sewu yang dahulu sebagai kantor jawatan kereta api dengan nama belanda yang saya lupa sebutannya, namun salah satu kata didalamnya telah menyumbangkan satu kosakata bahasa transportasi kereta api, yaitu sepur (kereta api)sebuatan orang jawa. Lalu fungsinya berubah setelah kedatangan bangsa dari negara dengan sebutan matahari terbit yaitu, jepang. Pada saat penjajahan jepang bangunan ini berfungsi sebagai kantor pemerintahan sekaligus, ruang bawah tanah yang dahulunya sebagai penampungan air digunakan untuk penjara penyiksaan bangsa indonesia yang didakwa melakukan kesalahan besar.
Gambar Pribadi
Menyusuri setiap sudut gedung tua bersejarah ini, seakan saya berada di negeri kincir angin dengan ibu kota Amsterdam. Simpul-simpul sudut yang sederhana, namun megah sampai saat ini. berjibaku dengan pertumbunhan bangunan minimalis saat in di sekitar berdirinya gedung lawang sewu. Sehingga kegagahan lawang sewu sedikit tenggelam oleh tingginya gedung yang menjulang disekitanya. Terdiri dari tiga lantai dan banyak pintu, sehingga disebutlah demikian sebutannya. Lawang sewu saat ini masih tetap jadi destinasi wisata sejarah untuk dikunjungi untuk dikunjungi. Bangunan yang masih banyak menyimpan misteri yang belum banyak diketahui fakta asli.
Hampir sama dengan bangunan di lawang sewu, lima belas menit dari lawang sewu ada daerah bersejarah di kota semarang, dengan keunikan bangunan khas eropa klasik, yaitu Kota Lama. Komplek daerah kota lama memliki banyak relief gedung bernuansa eropa terutama yang diarsiteki oleh para intelektual belanda saat itu. Bangunan yang masih asli, dengan cat-cat tembok yang dibiarkan memudar, namun ada yang masih dirawat dengan mengecat simpu-simpul tembok warna putih yang mendominasi. Belum banyak yang saya ketahui tentang komplek kota lama tersebut. Yang sekarang banyak dijadikan ruko-ruko disekitaran jalan sepanjang daerah tersebut. Kondisi saat di tempat tersebut habis hujan, jadi mengurangi segi keindahan kota jaman dahulu. Terbayang menggambarkan setiap aktivitas di daerah itu, sepadatkah sekarang diabad ke 21 ini. Tentulah beda, karena faktor perkembangan teknologi dan informasi yang manusia kembangkan saat ini.
oleh : setiawati
x

Tidak ada komentar:
Posting Komentar