Siang
yang tidak tampak panas, mendung sedikit menyapa kemarau kali ini. Langkahku
tertuju di bangunan sederhana, namun di tempat tersebut menyimpan orang-orang
yang nanti siap keluar mengubah dunia menjadi berwarna. Menuangkan berbagai
warna tinta dan cat yang dipadu-padankan dengan warna-warna lainnya, sehingga
membentuk keseimbangan isi yang ada dalam lukisan itu. Aku juga tak mau
ketinggalan untuk menggoreskan kuas ajaib berisi cat dan tinta, ikut melukiskan
apa yang ada dipikiranku menciptakan suatu estiteka gambar yang harmoni dan
serasi.
Senyum-senyum
mereka terasa mengejutkan, namun itu luar biasa. Aku menduga itu sebuah
keheranan. Tapi tidak menutup kemungkinan senyuman sambutan memberi dukungan.
Mendorong untuk ikut berkumpul bersama mereka berbagi cat dan warna tinta demi
sebuah lukisan yang menawan, namun masih jauh dari kesempurnaan.
Ya,
harus berani menuangkan cat-cat itu kedalam kanvas. Namun sebelumnya aku takut
akan kesalahan dalam memadukan warna-warna itu agar sensasi estetikanya muncul.
Namun bisikan sebelahku yang selama satu tahun ini menemaniku dan mendukung
langkahku membawa kanvas dan cat untuk kutuangkan dalam kanvas putih.
Bisikannya terus memberi energi positiif. Satu lagi suara selalu megenggamkan
tangannya petunjuk dukungannya. Bukti itu semangat yang tersirat dalam lukisan
orang-orang yang sibuk beradu argumen, menyusun teori yang menguatkan argumen
orang-orang sibuk itu.Beradu argumen bukan suatu yang buruk, baik asalkan
terarah pada tujuan yang benar. Asalkan tidak untuk kepentingan satu diri.
Sebelum
mencoret-coret kanvas berbagai pertayaan disuguhkan di hadapanku untuk kumakan
lalu kumuntahkan lagi dalam bentuk sari-sari jawaban namun bernutrisi. Tiga
kali aku makan pertanyaan, beda pula menu dan jawabannya. Aku merasa pencernaanku
masih kuat untuk mencerna pertanyaan itu lalu diproses menjadi energi penopang
aktivitasku. Selesailah ditempat ketiga, aku suka dengan tempat ketiga yang
banyak rasa warna seperti gejolak di dunia mengenai penguasa. Namun aku lebih
suka harmonisasi ilmu-ilmu, motivasi, dorongan-dorongan positif untuk kusuapkan
kepada para semua orang yang butuh nutrisi ilmu yang bergizi.
Dentingan
jarum jam masih menunjukkan waktu yang masih belum keluar kepastian. Optimisme
makananku yang selalu kucipta sendiri. Menerka-nerka yang terbaik dan indah
yang dapat dilihat dan dinikmati orang banyak, menghibur, dan memulihkan jiwa
mereka yang lelah, lalu menyuapkan energi untuk kembali bergerak dalam suatu
aksi. Menciptakan metode dan alat paling mutakhir, namun masih menggunakan
dasar-dasar teori yang dulu untuk menemukan suatu hubungan yang mungkin
terputus atau yang dapat ditambahi tali agar semakin kuat.
Masih
saja menunggu waktu yang belum keluar kepastian, masih teringat mengenai rasa
pertanyaan. Aku lupa apa rasanya, sambil menatap dinding yang berwarna dasar
krem, baru aku sedikit mengingat. Tapi aku tak sadar dengan ketidaktahuanku
seolah menggambarkan kebodohan yang semu, terlihat namun tak jelas untuk
dilihat. Kebodohan yang semu itu menimbulkan rasa malu, sungguh kepekaanku
mengenai hal sekitar perlu dirapikan, distimulus dengan rasa-rasa tajam untuk
menumbuhkan kepekaan. Terkadang hal sepele bisa jadi bumerang yang
menenggelamkan. Iya, kalau bisa berenang dan selamat sampai darata?. Jika
tidak, lantas minta pertolongan siapa? Masih beruntung ada orang melihat lalu
dinaikkannya tubuh lemah kedaratan. Diobatinya dengan teguran dan saran agar
kembali nyata dan jelas kepiwaian serta kepadaian itu.