Rabu, 24 September 2014

Estetika Cat dan Warna

Siang yang tidak tampak panas, mendung sedikit menyapa kemarau kali ini. Langkahku tertuju di bangunan sederhana, namun di tempat tersebut menyimpan orang-orang yang nanti siap keluar mengubah dunia menjadi berwarna. Menuangkan berbagai warna tinta dan cat yang dipadu-padankan dengan warna-warna lainnya, sehingga membentuk keseimbangan isi yang ada dalam lukisan itu. Aku juga tak mau ketinggalan untuk menggoreskan kuas ajaib berisi cat dan tinta, ikut melukiskan apa yang ada dipikiranku menciptakan suatu estiteka gambar yang harmoni dan serasi.

Senyum-senyum mereka terasa mengejutkan, namun itu luar biasa. Aku menduga itu sebuah keheranan. Tapi tidak menutup kemungkinan senyuman sambutan memberi dukungan. Mendorong untuk ikut berkumpul bersama mereka berbagi cat dan warna tinta demi sebuah lukisan yang menawan, namun masih jauh dari kesempurnaan.

Ya, harus berani menuangkan cat-cat itu kedalam kanvas. Namun sebelumnya aku takut akan kesalahan dalam memadukan warna-warna itu agar sensasi estetikanya muncul. Namun bisikan sebelahku yang selama satu tahun ini menemaniku dan mendukung langkahku membawa kanvas dan cat untuk kutuangkan dalam kanvas putih. Bisikannya terus memberi energi positiif. Satu lagi suara selalu megenggamkan tangannya petunjuk dukungannya. Bukti itu semangat yang tersirat dalam lukisan orang-orang yang sibuk beradu argumen, menyusun teori yang menguatkan argumen orang-orang sibuk itu.Beradu argumen bukan suatu yang buruk, baik asalkan terarah pada tujuan yang benar. Asalkan tidak untuk kepentingan satu diri.

Sebelum mencoret-coret kanvas berbagai pertayaan disuguhkan di hadapanku untuk kumakan lalu kumuntahkan lagi dalam bentuk sari-sari jawaban namun bernutrisi. Tiga kali aku makan pertanyaan, beda pula menu dan jawabannya. Aku merasa pencernaanku masih kuat untuk mencerna pertanyaan itu lalu diproses menjadi energi penopang aktivitasku. Selesailah ditempat ketiga, aku suka dengan tempat ketiga yang banyak rasa warna seperti gejolak di dunia mengenai penguasa. Namun aku lebih suka harmonisasi ilmu-ilmu, motivasi, dorongan-dorongan positif untuk kusuapkan kepada para semua orang yang butuh nutrisi ilmu yang bergizi.

Dentingan jarum jam masih menunjukkan waktu yang masih belum keluar kepastian. Optimisme makananku yang selalu kucipta sendiri. Menerka-nerka yang terbaik dan indah yang dapat dilihat dan dinikmati orang banyak, menghibur, dan memulihkan jiwa mereka yang lelah, lalu menyuapkan energi untuk kembali bergerak dalam suatu aksi. Menciptakan metode dan alat paling mutakhir, namun masih menggunakan dasar-dasar teori yang dulu untuk menemukan suatu hubungan yang mungkin terputus atau yang dapat ditambahi tali agar semakin kuat.

Masih saja menunggu waktu yang belum keluar kepastian, masih teringat mengenai rasa pertanyaan. Aku lupa apa rasanya, sambil menatap dinding yang berwarna dasar krem, baru aku sedikit mengingat. Tapi aku tak sadar dengan ketidaktahuanku seolah menggambarkan kebodohan yang semu, terlihat namun tak jelas untuk dilihat. Kebodohan yang semu itu menimbulkan rasa malu, sungguh kepekaanku mengenai hal sekitar perlu dirapikan, distimulus dengan rasa-rasa tajam untuk menumbuhkan kepekaan. Terkadang hal sepele bisa jadi bumerang yang menenggelamkan. Iya, kalau bisa berenang dan selamat sampai darata?. Jika tidak, lantas minta pertolongan siapa? Masih beruntung ada orang melihat lalu dinaikkannya tubuh lemah kedaratan. Diobatinya dengan teguran dan saran agar kembali nyata dan jelas kepiwaian serta kepadaian itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar