Jumat, 14 November 2014

Last Post Deep Feel

Malam ini saya sempat berputus asa menghadapi sebagian masalah yang mungkin prosentasenya hanya 0,000 dari sekian masalah besar yang saya hadapi. Saya berpikir dan berkali-kali saya memilih-milih cara yang pas untuk merekrut banyaknya peserta sekolah dalam suatu organisasi yang sekarang saya naungi dan saya sebagai seorang headmaster. Inilah kali pertama saya belajar memimpin sekelompok kecil, kelompok yang harus bisa menyatukan visi-misi setiap anggota. Bukan hanya itu, sebagai seorang pemimpin saya juga harus mampu bagaimana mengontrol dan menjadi pihak penetralisir jika ada suatu konflik. Mengatur bagaimana agar semua anggota juga ikut dalam memutuskan dan menyumbangkan ide untuk menyelesaikan masalah serta menciptakan ide kreatif untuk mengubah sesuatu yang kurang dan belum ada. 

 Sungguh saya seperti bersalah karena tidak adanya pendaftar di ECONOMIC FUTURE LEADER (EFL). Disaat-saat itulah negatif thingking ku mulai muncul. Seolah salahnya selalu ada di saya. Pikiranku berlari kemana-mana menerka-nerka yang seharusnya tidak dipikiran saya. Salah satunya antara lain yaitu, bagaimana pertanggungjawabanku kepada kadep terutama PPSDM, karena saya gagal membawa organisasi yang saya naungi tidak berkembang bahkan aku membiarkan senyap tak berpenghuni. Kepada teman-teman PPSDM yang telah bekerja keras menyusun dan membentuk EFL dengan susah payah. Kepada Ketua BEM FE, dan kepada anggota BEM lainnya yang sangat berharap perkembangan baik dari sekoalh ini.

 Terkadang optimisme saya muncul dengan penuh semangat yang menggebu-gebu. Saya menilai EFL sebagai kelas eksklusif dan class internasional karena jumlah anggotanya yang sedikit. Pikiran saya membawa kearah pendidikan atau sekolah yng nantinya sangat luar biasa kesungguhan muridnya karena sangat istimewanya. Namun terkadang pikiran tak sejalan dengan kenyataan bagaimana menggerakkan semua anggota agar sejalan dengan aturan dan pikiran kita. Sungguh itulah titik perjuangannya. Akan menjadi hal mustahil jika suatu ide dan tindakan turun tangan hanya kita sendiri yang bergerak tanpa ada yang mengikuti.

 Mengatur manusia jauh lebih hati-hati ketimbang sebuah tanaman. Karena manusia bukan hanya diajar bagaimana memainkan logika, tetapi juga rasa, perasaan, dan hati yang bermuara pada ketulusan. Ibarat tanaman pupuk dan air sebagai nutrisinya, jika manusia perhatian, kasih sayang, teguran, saran itulah pupuknya agar semakin tubuh subur dan dapat berbuah yang kelak dapat bermanfaat bagi orang lain.

 Dalam benak saya wajar jika saya terkadang mengeluh, bagaimana, dan apa yang harus saya lakukan. Namun saya juga berpikir dan mencoba menjalani untuk mengurangi keluhan. Karena terkadang yang diajak untuk mendengarkan keluhan kita, malah jauh lebih besar masalahnya. Dia mampu untuk berusaha menyelesaikannya tanpa harus berkeluh kesah mengenai masalahnya. Hanya sesekali mungkin meminta saran. Dan saya lebih senang menyampaikan masalah dengan Allah yang Maha Bijaksana dan Pemberi Solusi terbaik untuk setiap masalah. Saya selalu menyemangati diriku untuk kuat dengan semua masalahku.

 Dan kini aku tersadarkan itulah proses sebuah pendewasaan seorang manusia yang dilahirkan sebagai seorang pemimpin. Lewat perantara kakak-kakak senior di BEM, itulah solusi yang diberikan oleh Allah. 

Sekarang aku percaya dan selalu berkata: hei maasalah besar aku memiliki Allah yang Maha besar yang mampu membesarkan nyaliku menghadapimu. Kini kutantang dirimu wahai masalah untuk datang kepada ku biarlah aku selasaikan semua itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar