Sabtu, 15 November 2014

Today

Pembaca setia blog saya, hari ini banyak pelajaran yang saya dapatkan dari organisasi yang saya naungi. Dari situlah saya mulai banyak belajar, memahami karakter orang-oarang yang terlibat didalamnya. memerhatikan setiap gerak langkahnya sampai prestasinya. Hal tersebut merupakan pembelajaran buat saya. Saya ingin mengulas masa lalu saya mengenai keputusasaan karena perbedaan disini, yang ada kaitannya dengan organisasi saya.

flasback masa SMA saat saya masih kelas X. sungguh bisa dibilang saya mersa bodoh sekali dengan keputusan yang membegokkanku setelah saat itu saya ucapkan. Jadi dulu saya, ya... biasa saja sih..,tapi saya rajin. dikelas paling tidak saya ada diposisi dua. maaf bukan berarti saya menyombongkan diri. saya juga tidak bangga kok, karena belum seberapa. Pada siang hari saat itu, ya kira-kira tahun 2010an lah, kebetulan kelas tidak ada guru. teman-teman yang tergabung dalam geng X dalam kelas keluar ke kantin saat itu, padahal ada tugas dari ibu guru. kalau tidak salah pelajaran Bahasa Indonesia. ketika guru saya masuk, menanyakan teman-teman saya yang tergabung dalam suatu geng X. nah, saya bilang saja kan mereka ke kantin, karena kejujuran itu kan baik. saat guru saya sudah keluar dan selesai mengajar yang cukup singkat, tiba-tiba mereka datang. mereka menanyakan bagaimana tadi ibu guru, apakah menanyakan mereka?

Biasa dalam kehidupan, jika, tidak semua orang itu menyukai segala sesuatu dari kita. ada-ada saja yang iri, entah menunjukkan sikap ketidaksukaan yang lain. Langsung deh, mereka menghujat, memojokkan, mengejek. Setiap saya lewat mereka itu minggir, sambil mengatakan "awas-awas anak pinter mau lewat, berikan jalan." kesayangan guru bahasa Indonesia pula.

semenjak itu saya mengambil keputusan yang dibilang sangat bodoh, sehinga membuatku tertinggal dari temen-temen sampai saat ini. terutama semester kuliah,teman-teman saya sudah semester lima, saya baru semester tiga. keputusan saya saat itu " saya ingin jadi orang biasa dengan segala kekurangan" , jadi semenjak saya naik kelas XI saya tidak pernah belajar, tidak pernah mengerjakan tugas. Hanya gara-gara mereka, saya menyia-nyiakan masa emas di akademik saya.

dari situ, bisa diambil pelajaran. jadi setiap kata-kata adalah doa. dan hal tersebut memang benar adanya. makanya pembaca setia, jangan sekali-kali pesismistis lalu melontarkan kata-kata yang merendahkan diri sendiri. nantinya reader akan menyesal seumur hidup.

 semenjak saya lulus sekolah, saya sempat berhenti satu tahun. itulah ketertinggalan saya. dari situlah saya belajar memahami kata-kata. dari apa yang kita inginkan, jangan sekali merendahkan diri sendiri, lebih-lebih seperti saya. karena kekecewaan tidak masuk perguruan tinggi negeri saya mulai membangun semangat lagi. mulai aktif belajar, banyak bertanya ke teman-teman saya yang sudah melanjutkan studi lebih cepat dari saya.

saat itulah saya menuliskan semua keinginan saya di buku diary saya. sumuanya adalah impian saya selama satu tahun mendatang, dan hal tersebut terwujud, Alhamdulillah sekali. dan sekarang saya juga belajar lebih banyak mulai ikut BP2M yaitu jurnalis, namun ditolak, ikit komunitas kewirausahaan dikampus, ditolak juga, di BEM juga ditolak, HIMA juga ditolak. jadi semester satu, dua penuh penolakan reader setia saya.

Dari pengalaman tersebut, aku berpegang teguh untuk tida tidak putus semangat. karena orang-orang berhasil tidak dilahirkan atau tercipta secara instan. harus ada proses yang mengiringi entah itu manis maupun pahit. tapi yakinlah bahwa semuanya ada hikmah dibaliknya. ada yang kita tidak ketahui, setelah itu kita menjadi tahu. banyak kawan dan teman-teman baik dan pandai.

sekarang hasilnya saya menjadi kepala sekolah kepemimpinan di fakultas ekonomi, karena saya anak ekonomi hhe,,. selanjutnya saya juga ada tanggung jawab de BEM FE yaitu magang di PPSDM BEM FE. 

untuk reader setia selalu berpikirlah positif, berpikir yang membangkitkan semangat, jangan merendahkan diri-sendiri.

Hal-hal baik tidak akan sia-sia kita lakukan, karena kita akan menikamati hasilnya nanti, seiring berjalannya waktu. jadilah seseoarang yang memegang teguh man jadda wa jadda dan man shabara zafira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar